Kamis, 15 November 2012

Laporan Liburan "Road Show to Probolinggo" (part 2)


Hari 1:

Sebenarnya bukan hari ke-1 juga sch. Normal, hari pertama saya itu adalah hari Jumat. Faktanya, hari itu, saya masih berkutat di jalan. Jadi hari pertama, adalah sabtu. Rencananya, hari Jumat saya gunakan untuk berkunjung ke beberapa teman SMA. Sabtu baru hari undangan resminya.Sabtu, 00.00 WIB, saya tiba di asrama. Sambutan hangat dari teman-teman seperjuangan. Mulai dari adik-adik kelas sampai senior saya. Salah satunya, Mas Dimas. Entah kenapa saya bisa berkenalan dengan beliau. Pelukan hangat dari beliau menjumpai pertemuan kami setelah 5 tahun tak berjumpa. Ya 5 tahun kami tak berjumpa. Kami hanya lewat sms yang jarang dibalasnya dan telepon hanya sekedar basa-basi. Layaknya tamu kehormatan baginya, saya diantarkan ke kamar istirahat. Istirahat? Tidak! Saya harus makan dini hari. Habis itu diajak berkeliling asrama, seolah-olah saya melupakan seluk beluk asrama saya. Lalu kami menuju panggung kecil, di tengah lapangan.Panggung kecil itu, kami bercerita banyak hal. Mulai dari kisah perjalananku sampai pengalaman masa lalu kami berdua. Pagi dini hari, obrolan kami terhenti oleh letihnya badan kami. Kasur di kamar sudah memanggil-memanggil agar kami melayaninya. Saya dan beliau tidur.Baru saja mata ini beristirahat sejenak, sinar matahari memanggil kami. Kami sudah harus bangun. Kami harus mempersiapkan acara ‘besar’ hari ini. Walaupun mata dan badan belum 100 fit. Mas Dimas sudah mulai menyibukkan dirinya. Itu karena dia merupakan formatur ( red. Salah satu pimpinan asrama). Saya  bingung harus berbuat apa padahal saya berstatus alumni dan tamu undangan.Di sekolahku...Nuno, teman asramaku, mengajak saya pergi ke sekolah kami. Saya mengiyakan karena bingung harus apa di asrama. Pagi hari kami keluar dari asrama menuju salah satu rumah guruku. Guruku itu bernama Bu Ninik. Guruku telah banyak mengajarkan Bahasa Indonesia serta saya pernah share mengenai kehidupan. Saya pernah bertanya mengenai perkuliahan. Banyak hal informasi yang saya peroleh dari guruku itu. Akhirnya saya sampai saat ini kuliah di perguruan tinggi negeri. Terima kasih, bu.Setelah mampir sebentar, saya, Nuno, dan Domi, teman asramaku juga, pergi menuju sekolah kami. Sambutan hangat dari beberapa guru yang kami kenal. Guru-guru kami sangat akrab dengan kami. Mereka banyak mengenal betul siapa kami. Karena banyak di antara kami, diajarkan sejak kami menginjak kaki di Probolinggo. Kami saling berfoto ria. Canda tawa dan senyuman selalu menghiasi pertemuan kami pagi itu.Bu Windarini, adalah guru favoriteku. Beliau guru wali kelas saat saya kelas XII. Semasa SMA, saya cukup pintar di Akuntasi dan Ekonomi sehingga wali kelas itu meminta mengajarkan teman-teman sekelas. Bahkan saya sempat mengajarkan beberapa teman yang beda kelas. Saya berjumpa beliau, ada rasa senang dan rindu.
Pertemuan kami hanya singkat. Bermakna dan senang sekali. Saya merenungkan bahwa tanpa guru-guru itu mungkin saya dan teman-teman tidak bisa menjadi apa-apa. Guru bagiku masih ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Gelar bagi guru yang sudah usang oleh perkembangan zaman. Terima kasih Ibu dan Bapak Guruku.Di asrama lagi...Jam tangan hampir menuju arah jam 9 pagi. Kami harus berpisah dengan para guru. kami ada pertemuan di asrama. Inilah saatnya saya menuju ke asrama kembali. Di asrama, acara besar sudah menunggu.
Acara tersebut ialah misa pemberkatan gedung baru dan penutupan pertemuan misdinar se-keuskupan Malang. Acara itu sudah berlangsung tiga hari yang lalu. Dan rupanya hari sabtu itu adalah hari penutup rangkaian acara tiga hari beruntun.Sore harinya, semua acara telah selesai begitu saja. Selesai begitu saja maksudku ialah acara besar tersebut tidak ada kesan terindah yang perlu dikenang. Minimnya acara kreativitas yang ditampilkan. Atau mungkin saja sudah terlewatkan acara kreativitasnya. Selepas hiru pikuk pesta, kami para seminaris harus turun ke lapangan. Sepakbola merupakan acara ‘dadakan’ yang dibuat oleh para alumnus seminarium marianum. Saya ingin sekali bermain sepak bola di lapangan besar. Sudah rindu saya bermain sepak bola. Sayangnya saya dapat tamu yang tak lain teman sma, Siska. Saya jumpai Siska. Kami ngobrol panjang. Tiba-tiba pak Lius, guru sma saya memanggil saya untuk turun ke lapangan. Saya pun dengan girang bermain sepak bola. Walaupun saya tak sehebat teman-teman lainnya. Saya hanya bermain 30 menit. Kecapean dan diserang terus oleh lawan membuat saya berhenti.Selepas bermain sepak bola, saya di suruh untuk opus ama mami subandi. Hanya lima menit, saya langsung kabur karena tidak enak ada tamu, Siska. Saya jumpai Siska. Kami ngobrol banyak hal. Dan saya pun kedatangan tamu, Ari, teman sma saya pula. Kami bertiga terus bahas masa-masa sma yang sebenarnya tidak banyak saya ketahui. Nuno, Domi, dan Obby menghampiri kami. Obrolan sore kami bertambah seru.Malamnya, saya merasa lelah dan badanku ini butuh istirahat. Saya tertidur setelah seharian banyak yang harus dilakukan. Sendirian di kamar, saya pun tertidur dengan pulas. Tengah malam saya pun terbangun. Saya menuju ke ruang rekreasi dimana para seminaris dan alumnus berkumpul hanya sekadar berbagi share pengalaman masing-masing. Di acara tersebut saya tidak berbagi karena telat datang.Setelah itu, para alumnus, menyebar ke berbagai tempat. Angkatan mas Dimas pergi ke kamar untuk beristirahat. Sedangkan angkatan adek kelas istirahat di rumah pak Pono. Angkatan mas Diego berkumpul dengan rumah Bu Ninik. Yang sisa hanya saya dan Nuno. Kami berdua hanya mencari makanan di tengah kota di tengah malam. Kami berdua makan mie goreng di alun-alun.  Setelah itu, saya beristirahat.

Hari Kedua.

Awal kegiatan di hari kedua ialah pergi misa di susteran. Misa susteran sudah lama tidak saya alami sejak lima tahun yang lalu. Misa pun saya masih dalam keadaan ngantuk. Saya pun mengalami kembali masa-masa di mana saya harus berjalan kaki menuju ke asrama secara berkelompok. Habis itu sarapan pagi pun telah siap untuk kami santap.
Hari ini merupakan hari terakhir diri saya hadir di kota ini. Biarpun saya merencanakan akan balik ke Jakarta hari senin esoknya, saya harus meninggalkan kota ini dan menuju ke Kraksaan. Kraksaan adalah kota kecil, Kabupaten Probolinggo. Kota itu terdapat rumah namboruku. Dan saya semestinya harus ke tempat tersebut karena merekalah telah merawat saya dan adek saya selama di Probolinggo.
Dari Probolinggo ke Kraksaan ditempuh dengan sepeda motor. Agak lama, dan ngantuk selama perjalanan. Sesampai di rumah namboru, sambutan hangat jumpai. Saya pun langsung tertidur karena saya kurang tidur selama 3 hari yang lalu.

Hari Ketiga
Hari sudah pagi. Badan masih terasa pegel dan ingin tidur kembali. Sayangnya saya berada di timur, sehingga jam 5 pagi terasa jam 10 siang di Jakarta. panas dan terang.  Mau tidak mau jam 5 pagi saya mesti bangun. Aktivitas pagi hari yang saya lakukan ialah olahraga jalan pagi dengan amangboru (red. Pakle) saya. Setelah itu, saya mencari pohon yang pesanan bapak saya.
Mencari pohon mangga, saya nae motor amangboru. Motor itu didesain khusus sesuai dengan kebutuhan amangboru. Beliau sedang sakit stroke. Biarpun stroke, beliau bisa mengendarai motor dengan desain khusus. Pada umumnya, pegal motor berada di sebelah kanan. Sedangkan motor itu pegangan gasnya berada di sebelah kiri. Perlu keahlian khusus. Beruntung saya tak perlu waktu banyak untuk belajar motor itu.
Dua tunas pohon mangga adalah pesanan bapak saya. Sebenarnya saya tak mau membawanya. Berat dan ribet. Karena itu pesanan dari bapak saya makanya saya mau membawanya. Saya pun sempat berbincang dengan amangboru mengenai bercocok tanam. Amangboru memiliki bunga-bunga yang indah hasil karyanya. Kalau di jual memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Ada keinginan saya untuk memperindah lahan di depan rumah dengan taman yang kecil dan indah. Setelah itu, saya lelah dan tertidur.
Habis bangun tidur lagi, saya pergi dengan namboru untuk mencari oleh-oleh dari Probolinggo. Saya belanja banyak. Saya pun binggung mau beri apa ke namboru. Secara namboru sudah baik hati merawat saya seperti anaknya sendiri selama saya sekolah di Probolinggo. Saya pun memutuskan untuk makan mie ayam. Sederhana dan tidak seberapa nilainya. Masih kecil. Tapi saya terharu saat namboru berkata kepada saya:
“Enak ya, punya banyak keponakan. Adek kamu kasih uang belanja ke namboru. Kamu (red. Saya) mengajak makan mie ayam. Namboru bangga dengan kalian semua. Dan jangan pernah sombong dengan apa yang diperoleh.”
Pesan namboruku itu sangat dalam dan terharu. Saya memang baru memberi sedikit dari apa yang banyak diberikan namboru untuk saya. Saya tidak pernah melupakan jasa baik buat namboruku itu. Lewat tulisan ini saya mengucapakan terima kasih namboruku. Namboru yang mengajarkan banyak hal kepada saya selama saya sekolah. Terima kasih kasih sayang sebagai orang tua yang selama waktu itu saya dapatkan sebagai pengganti sementara mama dan bapak saya. Terima kasih namboru. Banyak hal yang dapat dipelajari dalam kehidupa ini. Tiap waktu. Tiap langkah. Tiap kejadian apa pun dapat bermakna untuk hidup ini. Yang penting mensyukuri apa yang ada.

Menuju Jakarta ...
Hari sudah siang. Tiket sudah di tangan. Jam sudah menunjuk jam 1 siang. Bis datang tepat waktu. Setengah dua bis saya sudah tiba di loket pemberangkatan. Semua barang saya sudah dimasukan dan penumpang sudah berada di kursi masing-masing. Bis berangkat.
Awal pemberangkatan berjalan dengan lancar. Waktu tepat. Namun perasaan sudah mulai aneh sejak di Tuban. Bis berjalan bukan pada jalur sebenarnya. Saya memang hafal jalan mana yang harus dilalui. Tapi malam itu, bis menggunakan jalur alternatif yang menurutku jalan bertambah panjang. Jalur alternatif tersebut sungguh sempit dan gelap. Kami melewati hutan dan daerah pertambangan semen serta kawasan pabrik semen. Perjalananku juga terasa panjang sejak ada macet total karena perbaikan jalan. Setelah itu, bis masuk SPBU. Awalnya hanya mengisi bahan bakar. Ternyata bis parkir untuk menambal ban. Ban bocor di daerah Pati. Sejam lebih waktu perbaikan ban. Kemudian bis berjalan kembali. Namun bis terasa aneh sepanjang jalan sejak masuk daerah Cirebon. Keanehanku ternyata benar, bis mengalami rusak kembali di tol Cirebon. Kerusakkan bis diakibatkan tekanan ban. Lebih dari satu setengah jam kami berada di pinggir jalan tol. Saya berserta penumpang lainnya harus berpanas-panas ria di pinggir jalan tol. Menurut pengakuan driver bis, bahwa bis belum dalam keadaan 100% layak jalan. Dan benar, bis berjalan sangat lamabat. Tidak hanya itu saja, bis berjalan selalu bergoyang-goyang. Paling tidak enak kalau ada lobang di jalan, saya akan kesakitan.
Jam 11 siang, saya baru nikmati makan siang di Subang. Semua penumpang pada kelelahan dan mengeluh. Perjalanan sangat panjang. Dan saya baru tiba di Rawamangun jam 3 sore. Perjalanan saya dilanjutkan dengan naik taksi. Taksi yang saya naekin ialah taksi blue bird. Taksi cukup mahal bagi kantong saya.haha. beruntung taksi yang saya naiki cukup cepat dan saya tidak mengeluarkan biaya tambahan yang banyak.
Saya menginjak kaki di rumah tercinta pukul 5 sore.

Epilog,
Perjalanan panjang dan melelahkan.
Pengalaman yang begitu banyak
Pengalaman yang menjadi bahan refleksi dalam kehidupan
Petualangan yang mungkin di masa depan tidak akan terulang kembali
Canda..
Kebersamaan dengan orang-orang baru dikenal...
Waspada namun bersahabat...
Temu kangen..
Rindu yang terlampiaskan...
Dan semangat baru di Jakarta...
Dimulai dari 25-10-2012, pkl.19.00 s/d 30-10-2012.

By Dony Petrus >tulisan ini dari 1-11-2012 s/d 16-11-2012 > di kamar inspirasiku

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar